.welcome to my blog.CHEERSS:))

.assalamualaikum.
.salamb 3 jari dl att ash.\M/.hho.
.trserah kaliand zha akh.cm mo liat" blog dd' pha gmn judda.bebaskeund lakh.hhe.
.ttp semangatt lurd,!!.nuhund ash.

Kamis, 19 Februari 2009

"GERILYA MUSIK UNDERGROUND"

Bicara musik Indonesia, khususnya fenomena bermusik belakangan ini, rasanya kurang afdol kalo nggak ngomongin underground alias musik bawah tanah. Dalam waktu relatif muda, musik underground sudah mampu merambah pelosok wilayah Indonesia. Bagaikan “epidemik”, semangat underground menular begitu cepat dan dahsyat. So…

Ini fenomena positif saya pikir, untuk perkembangan musik di tanah air. Dari namanya saja, kita sebenarnya sudah diarahkan, dan dianggap tahu akan kemana kiblat musik underground. Ibarat perjuangan di medan perang, ia berjuang secara gerilya, sporadis dan tiba-tiba. Gerilya musik (saya lebih suka istilah gerilya) yang beberapa tahun dilakukan untuk komunitas musisi yang menolak “mainstream dan major label”, lebih condong menjadi oposan dari industri musik yang mapan (established), lebih berindikasi pada pemenuhan idealisme bermusik dibanding komersial yang rupanya saat ini telah mewabah.

Prinsip untuk selalu underground seperti sebuah “credo” untuk para musisi yang memilih jalur ini, secara konsisten memang dilakukan bermusik ala gerilya memang menawarkan tantangan yang sangat menarik. Bayangkan !! dari soal materi musik (lirik, bunyi, genre, aliran) yang jelas beda 360 derajat dengan musisi komersial, soal penampilan yang terkadang nyentrik dan apa adanya, dengan aksi panggung ke panggung secara intens (walau kadang gratisan, jaringan relasi antar underground dari berbagai wilayah, rekaman, distribusi hingga produksi, dilakukan sendiri dengan dana swadaya ala Gandhi. Ini anti-tesa dari ideologi kapitalisme yang mengganggap modal (baca : uang) adalah segalanya.

Secara ideologi, mungkinb lebih cocok pada sosialis kerakyatan, yang hubungannya terbentuk atas prinsip kebersamaan: Homo Homini Socius bukan Homo Homini Lupus ! Dan secara pembagian ideologi, undergrpound jelas musik “KIRI” ! Aliran kiri yang yang kata Romo Mangun (Alm.) adalah “pro-rakyat, pro kebenaran, anti-penindasan, anti-fasisme, anti-kapitalis, anti-kolonialis, amti-militeris dan anti-komunis. Terbebas dari fakta yang ada, eksistensi underground adalah sebuah dialektika dari sebuah kehidupan bermusik.

Perjalanan musik yang serba minim, terbatas, eksklusif menjadi musik yang digemari, dihargai dan diakui. Musisi underground harus berani memposisikan diri dari bawah, secara proses, yang nanti berlanjut sesuai dengan kemampuan “survival”nya pada kalangan musik, lanjut atau mati ! Sebagai sebuah konsep “tawuran” (alternatif) dari konsep musik jadi patron, underground punya sisi menarik. Underground selalu menempatkan diri sebagai oposan yang independen kala berhadapan dengan musisi dari kalangan industri. Ia menjadi anti-tesis musik mapan, menjadi antagonis dari lakon musik yang sudah dipakemkan menjadi sparring partner di sebuah ring kreativitas dimana piala atau keberhasilan diraih oleh atau atas kemampuan pribadi bukan dropping, karbitan. Skill indidvidu dan mental lebih utama untuk diraih dibanding popularitas yang kadang ersatz (semu).

Sok idealis kata orang awam menilai. Tapi sekali lagi itu kenyataan yang ada. Kembali kepada persoalan gerilya musik, disini dituntut komitmen, kredibilitas, konsistensi dan kontinuitas untuk menawarkan konsep underground pada orang diluar kelompoknya. Bicara gerilya berarti bicara ketahanan mental dan jasmani. Berapa lama mereka akan kuat di underground ? Sementara tawaran menarik/prospektif terus berdatangan. Akankah underground ditinggalkan ? Saya kembali berfikir bahwa konsep besar dari underground adalah pada gagasan dan keleluasaan untuk berkreasi tanpa ada intervensi baik dari industri maupun pasar.

Hakekat underground adalah pada gagasan, ide, nilai, norma mereka yang revolusioner, menjungkirbalikkan kemapanan yang cenderung status-quo, jadi bukan soal fisik tetapi ide. Gerilya musik ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman kelompok manusia dalam bidang lain seperti film misalnya. Kita kenal Garin, NT Achnas, Mira dsb, yang kerap disebut sineas gerilya karena produksi dan proses ke arah sana sangat kental nuansa gerilyanya yang revolusioner.

Gagasan tersebut tiba-tiba menghentak masyarakat dan mereka akan berfikir “lho kok bisa mereka ?” Sama dengan halnya mereka yang dikenal gerilyawan di bidang hukum (Munir – KONTRAS), bidang perempuan (Karlina Leksono dan Yenni Rosa), bidang musik (Leo Kristi, Ully Sigar), bidang agama (Romo Sandy, Said Aqiel Siradj) dan sebagainya.

Semua bergerilya untuk mendapatkan apa yang mereka tuju yaitu, perbaikan dan perubahan. Tak ada yang berubah kalau tak ada yang mendorong. Dalam konteks ini, underground menjadi pemicu berubahnya wajah musik Indonesia. Dengan intens dan rela, ia bergerilya dengan kemenangan idealisme musik. Bukan sekedar cari nama dan popularitas yang bisa secara gampang di dapat. Membentuk komunitas, apresiasi, eksistensi yang membelalakan mata kaum industrialis. Gerilya ala undergroundlah yang saya yakini menjadi aset, potensi, modal bagi kemajuan musik tanah air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar